Prinsip Syariah dalam Efek Syariah

Posted on Posted in Capital Market, Products, Shariah, Shariah Principles

Suatu Efek di pasar modal dikatakan sebagai Efek Syariah apabila karakteristik Efek tersebut memenuhi prinsip-prinsip Syariah. Merujuk kepada panduan IOSCO (2004) prinsip Syariah utama yang harus dipenuhi oleh suatu Efek Syariah terdiri dari dua (2) yaitu halal produk atau jenis usahanya dan bebas riba. Panduan tersebut di adopsi oleh seluruh negara dan lembaga keuangan di dunia dalam menentukan Efek Syariah.

Kriteria produk atau jenis usaha yang halal terdiri dari tiga (3) kategori utama, li dzatihi (haram karena zatnya), li ghairihi (haram bukan karena zatnya) dan mudharat lebih besar dari manfaat. Kriteria ini hampir sama di seluruh negara yang melakukan seleksi saham Syariah, sehingga relatif tidak ada perbedaan yang berarti terkait kriteria produk yang Syariah.

Dalam prakteknya, kriteria bebas riba mengalami penyesuaian dengan memasukkan indikator persyaratan minimal yang harus dipenuhi oleh Efek Syariah. Kondisi tersebut merupakan kesepakatan ulama yang menyadari bahwa tidak ada satupun kegiatan ekonomi yang bebas riba saat ini, sehingga mereka melakukan ijtihad untuk menyusun kriteria minimal yang harus dipenuhi. Ijtihad dilakukan oleh masing-masing negara maupun lembaga keuangan Islam sehingga terdapat perbedaan dalam standar nilai untuk kriteria minimal tersebut. Meskipun demikian, para ulama sepakat bahwa kriteria bebas riba harus dimasukkan kedalam dua variabel perusahaan, yaitu sumber dana dan sumber pendapatan perusahaan.

Kriteria riba dalam sumber dana perusahaan ditujukan untuk menyaring prosentase sumber dana berbasis riba terhadap variabel lainnya, seperti aset, modal maupun nilai kapitalisasi pasar. Dengan kriteria ini maka dapat disaring besaran sumber pembiayaan berbasis riba yang digunakan oleh perusahaan dalam menjalankan opersionalnya. Sedangkan kriteria riba dalam sumber pendapatan ditujukan untuk menyeleksi komposisi pendapatan berbasis riba terhadap total pendapatan perusahaan. Di Indonesia, kriteria hutang berbasis riba terhadap aset (Debt to Assets) adalah maksimal 45% sedangkan komposisi pendapatan berbasis terhadap total pendapatan maksimal 10%.

 

 

next >

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *